29 Maret 2011

Celoteh Weekend dan Golok Dogan

Siang ini aku cuma bisa ngelus dada sambil ngemut jempol ngeliatin cuaca di luar. GOD!
Panas banget Tuhaaaaaannnn....!! Photobucket
Gak tahan bo' keluar kantor buat nyari makan, tapi kalo gak keluar cacing di perutku dikasih makan apa? hikss...

Setelah dipikir-pikir, makin lama cuaca makin aneh ya, dulu aku inget betul dengan omongan guru disekolah, kalo musim hujan itu identik dengan bulan yang berakhiran -ber, kayak Oktober, Nopember, & Desember, terus kalo musim panas itu bulan-bulan kayak Maret, April, Mei, dll.
Bener sihh...tapi sekarang di bulan Maret, siang hari cuaca panaaasss naudzubillah, eh giliran sorenya hujan deresss...hadeeehh, ini musim apa jadinya ya?

okeh. di-Skip aja.
Sekarang aku mau cerita soal weekendku kemarin di Palembang.
Hem...aku baru nyadar sekarang, kalo tiap kali pulang Palembang, aku pasti keluyuran kemana-mana, gak mantep kayak kucing lagi beranak. Haha...
Ada-ada aja yang bikin aku keluyuran, entah mo ngambil duit atm, beli titipan, ke rumah temen...bla bla...intinya tiap weekend aku jarang dirumah! Tapi eiits, aku keluyuran masih inget waktu kok!

Dan mungkin karna udah kebiasaan keluyuran, minggu kemarin aku sempet mati kutu dirumah! Pengen keluar tapi gak tau mesti kemana.

Siangnya seperti yang aku bilang, cuaca panas banget kemarin. Nahh...biar ada alesan, aku pun keluar rumah buat nyari minuman, enaknya apa ya? ehmm...Es Dogan! heuuft....panas-panas minum es dogan, wuiihh...maknyusss!!kalo kak Gaphe bilang, Yumilah yumiwati, kalo Noell yang bilang, Dep sedeepp...!Hahaa...

Singkat cerita, panas-panas aku keluar rumah nyari Es dogan. Biasanya yang jual ada di Jalan Demang, ya...gak jauhlah dari rumah.
Gak lama jalan, ketemu juga deh tukang dogannya. Lagi parkir pinggir jalan, dengan mobil pick up bak terbuka, dogannya banyak banget uy!

Aku pun ikutan ngantri. But You know what, aku takjub liat penjualnya, seorang ibu muda dan anak laki-laki nya yang umurnya kira-kira 8/9 tahunan lah...

kenapa takjub, Ka??

Iya, kemarin aku langsung bengong ngeliat mereka. Gini, Kalo di warung-warung itu kan biasanya mereka udah nyiapin dogan dan es nya, trus tinggal diwadahin buat yang beli. Nah, kalo ditempat dogan yang aku beli ini, mereka ngupas dogannya langsung di tempat, pake golok/parang yang gede dan tajemnya amit-amit.
Dan, anak kecil yang aku liat itulah yang ngupasnya, Crash...crash...!

Widiiihhh....padahal dilihat dari badannya yang kecil kurus begitu, kasian banget dah liatnya. Mana hari lagi panas pulak...kebayang gak?!
Ibu nya juga lagi sibuk ngupas dogan dengan golok yang gak kalah gedenya.
Ini anak kecilnya
Gak jauh dari mereka, ada anak perempuan kecil, adeknya anak tadi kayaknya, lagi tidur dikursi sambil berteduh.
Waktu baru nyampe, untuk sesaat Aku cuma bisa bengong. Plisss....gak seharusnya mereka disini, gak seharusnya anak kecil itu megang golok, panas-panasan, dikerubungin banyak orang seperti ini...Aku nahan napas hampir di setiap kali anak itu mengayunkan goloknya ke Dogan, kalo telat sepersekian detik anak itu narik tanganya, golok itu pasti bakal mendarat dengan empuk di jari-jari mungil anak itu. Heuft!!!
Ibu dan anak kecil itu
 Aku jadi inget Aan, adikku yang lagi asyik maen dirumah. Ah...They should in their house now, enjoy their weekend.

Tapi ya mesti gimana, beginilah caranya nyari duit buat hidup ya.Kalo bisa memilih, pasti mereka gak mau susah payah kayak begitu.

Kalo sudah begini, terselip juga rasa syukur atas rejeki yang sudah kita punya. Di sisi lain, miris banget ngeliat anak-anak seperti mereka.

Aku pernah nulis soal anak-anak yang kerja jadi Ojek Payung, dan sekarang aku ngeliat lagi anak-anak yang kerja ngupas dogan, dan mungkin diluar sana ada lebih banyak lagi anak-anak yang bekerja lebih keras lagi dari mereka. Yeahhh... Actually, I hope No.

Enjoy this life !
With ♥,

28 Maret 2011

Episode Daniel : Yang Sebenarnya

         Daniel mengegas motornya lebih cepat, menyeruak jalanan malam kota Bandung. Dinginnya malam yang menusuk hingga ke tulang tak dihiraukannya lagi, Ia juga tak perduli dengan gerimis yang mulai turun membasahi jaket tipisnya, tatapannya tak lepas dari jalanan yang kian berliku dihadapannya. Sesekali Daniel menggerutu kesal dan mengklakson keras-keras ke mobil atau motor yang menghalangi jalannya. Pikiran Daniel melayang ke 20 menit yang lalu, saat ia masih santai memetik gitar di kamarnya sambil bernyanyi, mencoba beberapa lagu yang akan dinyanyikannya besok di gereja. Namun, perhatiannya terusik saat sebuah telepon masuk ke Handphonenya. Syafa! Nama dan foto Syafa terpampang di LCD Handphone, segera saja Daniel mengangkatnya.

“Haloo..” Jawab Daniel santai. Sejenak tak terdengar suara, “Sya...?”panggil Daniel lagi, namun tetap tak terdengar suara. Kening Daniel mengernyit. “Hey Sya, are you there..?.” Tak lama terdengar suara terisak pelan.

“Dan... Ibu Dan, Ibu...” Rintih suara di seberang telpon. Daniel tersentak. 

“Ibu?? Ibu kenapa Sya?“ tanya Daniel mulai khawatir. Terdengar suara Syafa yang mulai terisak.

“Tolong aku Dan, jantung Ibu kumat lagi.” Daniel tersentak, kontan saja Ia bangkit.

“Kenapa bisa kumat? Kamu sekarang dimana Sya?.” Tuut. Telepon terputus. Daniel mulai semakin cemas, ia mencoba memanggil nomor Syafa. Sekali dua kali, tapi yang terdengar hanya tanda sibuk. Daniel terduduk. Ia kembali mencoba menelpon lagi, tetap tak bisa. Tak lama Handphonenya bergetar, sms dari Syafa!

From : Syafa.
Aku gk tw kenapa Dan, jantung ibu kumat. Skrg aku lg bawa ibu ke RS. Hasan sadikin .
  
Setengah tak percaya, Daniel membaca ulang sms dari Syafa. Setelah benar, tanpa pikir panjang, Daniel segera menyambar jaket dan kunci motornya. Jam menunjukkan pukul 00.34 WIB, saat Daniel mulai mengeluarkan motor dan keluar rumah dengan buru-buru. Sambil mengemudikan motor, sebuah sms ia kirim ke nomor Syafa.

To : Syafa
Kmu yg tenang. I’ll be there. 

***

         Daniel menghenyakkan tubuhnya di sebuah kursi empuk diruang tamu, menggerakkan leher serta badannya ke kanan dan kiri, kemudian bersandar dan memejamkan matanya, mencoba melepaskan semua lelah dan kantuk yang ditahannya semalaman. Ya...semalam dia begadang di rumah sakit menemani Syafa dan Ibunya yang tiba-tiba sakit lagi karna jantung beliau yang kumat. Beruntung, beliau tidak apa-apa dan kini sedang di opname di rumah sakit.

“Daniel?” sebuah suara pelan memanggil Daniel dari arah dapur, tak lama terlihat seorang wanita tengah baya keluar dengan masih memakai celemek. Wajahnya begitu tenang dan jauh terlihat muda dari umur yang sebenarnya. Di dadanya terjuntai sebuah kalung salib, tanda betapa ia mencintai keyakinannya.

“Kamu dari mana semalam Nak?” tanya Ibu Daniel lembut seraya mendekati putra semata wayangnya. Dengan berat, Daniel membuka setengah matanya. 

“Aku ke rumah sakit semalam Bu.” Ibu Daniel mengernyit. Dengan lembut ia menyentuh kening putranya.

“Kamu sakit?” Ibu bertanya pelan. Daniel menggeleng seraya tersenyum, ia menggeser tangan Ibu dari keningnya.

“Bukan Daniel bu, tapi Ibunya Syafa.” 

“Syafa? Gadis muslim itu?” tanya Ibu Daniel lagi. Daniel mengangguk. Terdengar nada berat saat Ibunya mengucapkan nama Syafa. Ia tau apa yang ada dipikiran sang Ibunda mengenai Syafa, Daniel sangat-sangat tau dan mengerti. Dari kecil, Ibu Daniel tak begitu suka ia bergaul dengan Syafa, si gadis muslim, bukan hanya karna masalah keyakinan tapi juga soal status sosial mereka.

“Seharusnya hari ini kamu ke gereja Daniel, Romo berulang kali menelpon kerumah menanyakanmu” tegur sang Ibu. Daniel menghela napas panjang, ah yaa... Ia lupa tugas nya hari ini, seharusnya sekarang ia sedang menyenandungkan lagu-lagu rohani di gereja bersama teman-temannya yang lain.

“Aku lupa” sahut Daniel pelan, ia masih memejamkan matanya yang lelah.

“Berhentilah mengurusi orang lain, fokus dengan hidupmu sendiri dulu” gerutu sang Ibu lagi, Daniel hanya berdeham pelan. Terdengar desahan kesal sang Ibu, namun ia hanya diam.

“Ah...Sudahlah. Oh ya, malam ini kamu gak ada acara kan Daniel?.” Suara Ibu kini mulai terdengar tenang, “Teman ayahmu datang kerumah kita malam ini” ujar Ibu melanjutkan seraya kembali mengambil tempat disamping Daniel. 

“Ia partner kerja Ayahmu, punya usaha besar dan sukses. Rencananya dia akan datang dengan mengajak Istri dan putrinya, Maria. Dia gadis yang pintar, Niel. Seorang calon dokter, dan dia juga seorang penyanyi di gereja sepertimu” tutur Ibu dengan berbinar.

“Jadi?” tanya Daniel dengan enggan. Mendengar itu, Ibu menghela napas kesal. Ia menatap Daniel lekat-lekat.

“Ibu sudah pernah berkenalan dengan Maria, dan Ibu menyukainya. Jadi, Ibu harap kamu juga mau mengenalnya lebih jauh. Titik” ujar Ibu tegas. Ibu bukan orang yang suka dibantah, dan kalau sudah begini mau tak mau kehendaknya mesti dituruti.

“Let see later, Bu” ucap Daniel pelan, “Sekarang aku ingin tidur dulu” tertatih Ia beranjak masuk kedalam kamarnya, meninggalkan sang Ibu yang menatapnya kosong.

***

          Daniel memandang sebuah pigura kecil berwarna abu tua yang menggantung di dinding di sudut kamarnya. Di dalam pigura itu ada sebuah foto usang, ada Ayah, Ibu, Daniel dan Kakaknya. Mereka tersenyum bahagia, Daniel terlihat senang dipeluk sang kakak. Foto itu di ambil ketika Ia masih SD, beberapa bulan sebelum sang kakak meninggal karena kecelakaan. Sejak musibah itu, semua berubah. Orang tua Daniel jadi jauh lebih protektif dengannya, bahkan dalam setiap hal.

          Di samping pigura itu ada satu lagi foto yang terlihat lebih rapi dalam pigura kayu berwarna coklat tua. Ada foto seorang gadis manis berkerudung warna biru langit, sedang berdiri memegang piala dengan senyumnya yang lebar. Di sampingnya, ada Daniel yang berdiri seraya memegang sebuah miniatur menara Eiffel. Dialah Syafa, sahabat yang sudah sangat dikenalnya dari kecil. Foto itu di ambil saat mereka SMP, sesaat setelah memenangkan kompetisi miniatur keajaiban dunia. Daniel tersenyum simpul memandang foto yang kedua, seraya mengingat banyak hal gila yang sudah dilewatinya dengan Syafa. Di sudut foto, terlihat tanda tangan mereka berdua, dan sebuah tulisan tipis, Best Friend. Entah mengapa, Daniel selalu meringis melihat tulisan itu. Ah...

Mampukah Daniel dan Syafa menjaga persahabatan mereka? dan Bagaimanakah sebenarnya perasaan Daniel terhadap Syafa? Penasaran....??? Yuk baca lanjutan cerita ke dua nya di Blog mb Wulan, Rasa yang selalu Ada. Enjoy! :) 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------ 
Cerita ini di ikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com

Enjoy this life !
With ♥,

23 Maret 2011

A Letter for Dija

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamualaikum, Dija...


Pagi Dija sayaangg...! Baru bangun ya?? Ih..beleknya masih ada tuh? Hehee...
Waktu Tante nulis surat ini, Tante nitip pesen ke Tante Elsa biar surat ini nantinya dikasih ke Dija pagi-pagi banget ketika kamu bangun tidur, kenapa? Karna Tante pengen bisa jadi orang pertama yang bilang, ‘Selamat Ulang Tahun. Happy Sweet Seventeen ya Dija Sayaaang’. Mungkin gak ya?? Jangan-jangan sudah ratusan orang nih yang duluan ngucapinnya daripada Tante? Hikss... Tapi gak pa-pa deh, Dija kan dari dulu sudah banyak fansnya Photobucket


Nah... Sebelum Tante ngoceh lebih jauh, mungkin Dija bertanya-tanya, Tante ini siapa ya? Kok tiba-tiba ngirim surat ke Dija, Kok bisa kenal dengan Dija ya? Okeh, daripada Dija nya bingung, Tante kenalin diri tante dulu deh. Okeh, nama tante Rezka, tante temennya tante Elsa di dunia perbloggeran. Nahh...dari tante Elsa lah tante bisa kenal dan tau semua cerita Dija, karna tante Elsa rajin ceritain kamu lewat blog. Psst...! Enggak cuma tante, banyak juga looh temen blogger lain yang kenal sama Dija Photobucket


How cute you're :*
Kalo Tante, entah kenapa pertama kali liat foto Dija yang masih baby, tante langsung jatuh cinta! Eittss....bukan jatuh cinta yang gimana-gimana, maksudnya pertama kali liat Dija tantelangsung suka dan sayang sama Dija. Mungkin karna tante gak punya adik cewek kali ya, tau mungkin juga karna Tante dan Dija sama, sama-sama kehilangan Ibu sejak kecil. Dija kangen Ibu Nony? Iya, tante juga kangen Ibunya tante, beliau juga ada di surga sekarang, mungkin sedang ngobrol bareng sama Ibu Nony disana :)


Dija.... Dari dulu mungkin tante belum pernah bisa ketemu langsung sama Dija. Cuma lewat foto dan cerita-cerita di bloglah tante bisa tau perkembangan Dija, dari Dija yang masih baby lucu dan ngegemesin, Dija belajar jalan, lari, trus cerita Dija yang masuk TK, SD, dan sekarang....Dija sudah jadi gadis yang beranjak dewasa, tante selalu ngeliat Dija dari jauh. Yaaa... cuma dari jauh, tapi tante selalu berdoa agar Dija selalu bahagia disana, selalu dikelilingi hal-hal indah bersama keluarga dan teman-teman.


Dan, hari ini adalah hari kebanggaanmu Dija, hari ulang tahunmu. Gak kerasa ya, Dija sekarang sudah 17 tahun. Gimana sekolahnya Dija?? Hm... Nilainya bagus-bagus gak nih?? Pasti kamu punya banyak temen kan disekolah? Atau sudah punya pacar nih? Hayooo ngaku....!!! gak bakal dikasih tau tante Elsa kok, Hehee...


Ya... Dija yang sekarang bukan Dija yang dulu, yang masih baby atau anak kecil. Sekarang Dija sudah besar dan sudah punya tanggung jawab yang mesti dijalani. Hidup terkadang memang berat sayaaang, dan mungkin Dija seringkali menghadapi masalah, tapi janganlah takut, tetaplah tenang, anggaplah setiap masalah yang ada sebagai tahap pembelajaran dalam hidup. Tuhan memberikan kita masalah bukan untuk dihindari, tapi memberikan kita cara agar kita bisa lebih besar dan lebih dewasa. Setuju Dija?


Ah...Surat tante kepanjangan yaa??? Tapi semoga Dija gak bosen ya bacanya. Sekali lagi, tante mo ngucapin Selamat ulang tahun ya Dija...! Semoga Dija selau diberi kesehatan, keberkahan, dan kebahagiaan, sukses di sekolahnya dan bisa jadi kebanggan keluarga, agama, bangsa dan negara. AmiiiiiinnnPhotobucket
Hayooo.... Make a wish dan tiup lilinnyaa 
Terakhir, tante mo bilang kalo tante sayaaaaaaang sama Dija, gak cuma tante kok tapi banyak orang yang Dija sadari atau tidak, mereka sayang dan perhatian ke Dija, you're never alone. Pesan tante ke Dija enggak banyak, Tante harap Dija gak pernah menyerah dalam hidup, tetap semangat dalam menggapai semua impian Dija dan selalu ingat sama pencipta kita, Allah SWT, karna sejauh apapun kita melangkah, kepadaNya lah tetap kita kembali. Dija, Lakukan dan berikan yang terbaik ya buat semua....We always love you :*


Wassalamualaikum
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Surat di atas di buat untuk merayakan Dija's first Birthday. Kelak, surat ini akan di baca Dija kalo udah besar nanti....jadi terharu, hiksss....Photobucket

Enjoy this life !
With ♥,